Rabu, 28 November 2012

Keris Empu Gandring


Keris Mpu Gandring


Artikel tentang Keris Empu Gandring pernah saya tulis tahun 2006 dengan judul “Mpu Gandring: Profesor Metalurgi?” kemudian saya revisi tahun 2008 dengan judul “Keris Mpu Gandring: Hipotesis”. Dua artikel tersebut bisa dibaca di bagian bawah. Keduanya mengandung spekulasi. Artikel yang sekarang (2010) berusaha mencari fakta-fakta dan meminimumkan jumlah spekulasi. Artikel ini terus berkembang sesuai dengan bacaan yang diperoleh penulis.
Oleh Arief Yudhanto
1. Siapakah Empu Gandring?
Empu Gandring mempunyai nama asli Kiai Sumelang Gandring. Dia adalah keturunan seorang pembuat keris yang menuntut ilmu sampai ke Jawa Barat. Empu Gandring mempunyai 12 orang murid, dan semuanya memakai sebutan “Gandring” [1]. Bango Samparan, ayah tiri pendiri kerajaan Singosari Ken Angrok (1182 – 1227), menyebutkan bahwa Empu Gandring adalah seorang ahli keris di Tumapel, ibukota kerajaan Singosari (1222 – 1292). Dalam Kitab Pararaton[2], Bango Samparan menyebutkan desa tempat tinggal Empu Gandring yaitu Lulumbang.
2. Di manakah Lulumbang?
Desa Lulumbang dikenal dengan nama Sapih Lumbang. Jika desa Sapih Lumbang ini sama dengan Lumbang jaman sekarang maka letaknya diperkirakan berada 25 km dari Tongas (dekat Probolinggo, Jawa Timur) ke barat daya. Langit Kresna Hariadi [3] menulis:
Dari Tongas, akan terlihat ketinggian Bromo. Bromo selalu dikemuli halimun tebal sehingga sering tidak jelas, kecuali di musim kemarau. Menjelang Bromo atau lebih kurang dua tabuh waktu yang diperlukan dengan berkuda, di sanalah letak sebuah tempat yang amat indah. Tempat itu bernama Sapih atau orang juga menyebutnya Lumbang… apa Sapih Lumbang ada kaitannya dengan Lulumbang? Lulumbang tentu bukan nama sembarangan karena di sanalah seorang empu pembuat keris pernah tinggal.
Definisi ‘menjelang Bromo’ dapat diartikan sangat dekat dengan gunung Bromo meski kata ini sulit diukur.  Oleh karena itu istilah ‘dua tabuh’ perlu didefinisikan terlebih dahulu. Jika diasumsikan bahwa kecepatan berjalannya kuda menuju ke tempat yang ‘indah’, yang secara relatif diartikan sebagai perbukitan dengan panorama indah, adalah 2 km/jam (karena jalanan menanjak) maka jarak 25 km dapat ditempuh dalam waktu 12.5 jam. Jarak ini adalah jarak antara Tongas dengan Lumbang. Satu tabuh diartikan sebagai penanda fajar hingga tengah hari, dan tengah hari menuju senja, yang masing-masing adalah 6 jam. Perlu diingat bahwa ada dua desa Lumbang, yaitu Lumbang 1 dan Lumbang 2 di wilayah Pasuruan. Lumbang 1 lah yang berjarak 25 km dari Tongas. Lumbang 1 berada dekat dengan Bromo dan lokasinya di mulut pegunungan Tengger, 12 jam dari Tongas. Lokasi desa Lumbang dapat dilihat pada peta di bawah ini.

Peta satelit provinsi Jawa Timur: lokasi desa Lumbang 1 (sumber: google map)

3. Interaksi dengan Ken Angrok
Empu Gandring menjadi termasyhur karena pernah berinteraksi secara singkat dengan Ken Angrok. Interaksi ini boleh dikatakan sebagai alasan tak langsung terhadap revolusi berdarah yang memungkinkan terbangunnya kerajaan Singosari. Dialog dalam Kitab Pararaton menyiratkan bahwa Ken Angrok belum pernah mengenal Empu Gandring . Bango Samparan lah yang mengenalkan nama ‘Empu Gandring’ kepada Ken Angrok. Dalam Kitab Pararaton, Bango Samparan (atau terkenal dengan nama Lembong), menceritakan perihal keris buatan Empu Gandring:
Keris buatannya bertuah; tak ada orang sakti terhadap buatannya; tak perlu dua kali ditusukkan. Hendaknya kamu menyuruh membuat keris kepadanya.
Nampaknya reputasi Empu Gandring masih dipertanyakan karena apabila dia adalah ahli keris yang terkenal di wilayah Tumapel, maka Ken Angrok yang kerap kali berkelana di wilayah itu seharusnya mengenalnya. Namun, Ken Angrok baru mengenal nama Empu Gandring dari ayah angkatnya.
Tentang Ken Angrok. Perlu diceritakan di sini siapakah Ken Angrok itu. Ken Angrok dilahirkan di Singosari pada 1182 dari pasangan wanita bernama Ken Endog dan lelaki Brahmin Gajahpura dari Kediri [4]. Suatu versi cerita mengatakan bahwa Ken Angrok tidak mempunyai ayah karena ia adalah titisan Syiwa. Tapi karena Ken Endog malu, maka bayi Ken Angrok diletakkan begitu saja di tanah (kuburan atau tepi sungai). Seorang penjahat bernama Bango Samparan menemukan bayi Ken Angrok karena tangisannya. Ken Endog mendengar Bango Samparan memungut anaknya, ia lantas menemui Bango Samparan. Mereka berdua kemudian membesarkan Ken Angrok.
Satu bukti bahwa Ken Angrok belum mengenal Empu Gandring adalah percakapan mereka yang berkesan formal. Ken Angrok berbahasa sopan terhadap Empu Gandring, dan ini biasa terjadi ketika seorang yang lebih muda bercakap-cakap dengan seorang tua yang dihormati. Kitab Pararaton Bagian 2 menyebutkan kalimat yang dipakai Ken Angrok ketika pertama kali bertemu Empu Gandring:
Tuankah barangkali yang bernama Gandring itu; hendaknyalah hamba dibuatkan sebilah keris yang dapat selesai dalam waktu lima bulan, akan datang keperluan yang harus hamba lakukan.
Ken Angrok, seorang yang percaya bahwa ia adalah titisan Syiwa, berniat menggunakan keris itu untuk membunuh Sang Tunggul Ametung, pembesar Tumapel. Ken Angrok ingin menikahi Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Ken Dedes adalah anak seorang pertapa Buddha bernama Empu Purwo. Ken Dedes diculik dari rumahnya ketika tahu bahwa Empu Purwo sedang pergi bertapa. Alasan Ken Angrok ingin menikahi Ken Dedes adalah birahi semata. Diceritakan bahwa ketika Ken Dedes sedang hamil dan mendampingi Tunggul Ametung mengunjungi suatu desa, Ken Angrok melihat kain yang dipakai Ken Dedes terbuka sehingga nampak betis dan pahanya yang bersinar. Sejak saat itu, Ken Angrok berniat mempersunting Ken Dedes.
Ken Angrok memberikan tenggat waktu lima bulan bagi Empu Gandring. Empu Gandring tak setuju karena ia mengatakan bahwa ia memerlukan waktu satu tahun untuk menyelesaikan keris. Dalam cerita rakyat  yang lain tenggat waktunya adalah 40 hari [5]. Menurut Kitab Pararaton, Empu Gandring menolak permintaan Ken Angrok dengan mengatakan:
Jangan lima bulan itu, kalau kamu menginginkan yang baik, kira – kira setahun baru selesai, akan baik dan matang tempaannya
Namun Ken Angrok tetap memaksa:
Nah, biar bagaimana mengasahnya, hanya saja, hendaknya selesai didalam lima bulan
Dari percakapan ini, spesifikasi keris yang baik adalah keris yang “matang tempaannya”. Agar tempaan keris matang, ia memerlukan waktu satu tahun.
Dari hasil perhitungan sederhana, cerita dalam Kitab Pararaton cukup masuk akal. Namun lebih telitinya, penulis memperkirakan bahwa keris Empu Gandring dibuat selama maksimum 7 bulan. Bagaimana cara menghitungnya?
Kitab Pararaton menyebutkan bahwa Ken Dedes sedang hamil ketika Ken Angrok melihatnya untuk pertama kali. Seorang perempuan biasanya nampak jelas hamil ketika kehamilannya menginjak 3-4 bulan. Kehamilan ini nampak lebih jelas apabila tubuh perempuan tersebut cukup ramping. Kitab Pararaton juga menyebutkan bahwa setelah Tunggul Ametung terbunuh oleh keris Empu Gandring, anak Tunggul Ametung – Ken Dedes lahir. Jika kelahirannya normal (misal maksimum 10 bulan), maka lama pembuatan keris maksimum ialah 7 bulan.
y1 = masa kehamilan Ken Dedes hingga melahirkan = 10 bulan (maks)
y2 = bulan kehamilan ketika Ken Angrok melihat Ken Dedes = 3 bulan (kehamilan nampak jelas)
y1 – y2 = 7 bulan
Ada kemungkinan bahwa Kitab Pararaton dibuat dengan teliti sehingga masa pembuatan keris sangat bersesuaian dengan masa kehamilan dan pembunuhan Tunggul Ametung.
4. Terbunuhnya Empu Gandring
Lima bulan berlalu dan Ken Angrok datang lagi mengunjungi Empu Gandring untuk mengambil keris pesanannya. Empu Gandring ternyata belum menyelesaikan kerisnya. Keris itu digambarkan punya hulu kayu cangkring yang masih berduri, belum diberi perekat, masih kasar. Karena tak sabar, Ken Angrok mengambil keris yang sedang diasah Empu Gandring, lalu menikamkannya ke tubuh Empu Gandring. Keris itu sangat sakti menurut gambaran Kitab Pararaton berikut:
Lalu diletakkan pada lumpang batu tempat air asahan, lumpang berbelah menjadi dua; diletakkan pada landasan penempa, juga ini berbelah menjadi dua.
Sebelum mati, Empu Gandring sempat menyumpahi Ken Angrok bahwa tujuh turunannya bakal mati tertikam keris itu:
Buyung Angrok, kelak kamu akan mati oleh keris itu, anak cucumu akan mati karena keris itu juga, tujuh orang raja akan mati karena keris itu.
5. Keris Empu Gandring: Teknologi Canggih Abad ke-13
Keris Empu Gandring adalah aplikasi teknologi laminasi logam pertama kali di Jawa Timur. Keris tersebut mirip dengan keris nomor 3. Keris nomor 3 dibuat antara abad ke-13 dan 14 [6]. Keris Empu Gandring dikatakan memiliki pamor meski kurang jelas gambar pamor yang seperti apa. Keris nomor 3 juga memiliki pamor gambar daun [Ref]. Keris nomor 3 ini dijelasakan dalam [6] adalah aplikasi teknologi laminasi keris pertama kali. Ini berarti bahwa di dalam besinya, terdapat inti (core) yang terbuat dari nikel.
7. Keampuhan Keris Empu Gandring
Kisah keampuhan keris Empu Gandring adalah pemerian yang metaforik. Jika keampuhan keris itu terbukti benar, yaitu dapat memecah batu asahan dan lumpang menjadi dua, maka ini disebabkan oleh kekuatan supranatural keris. Orang Jawa mempercayai doa-doa atau ajian untuk memperkuat isi keris sehingga ia menjadi pusaka. Tidak ada bukti tertulis yang mengatakan bahwa Empu Gandring memberikan doa-doa kepada kerisnya. Ketika 5 bulan membuat keris, Empu Gandring ditemukan sedang mengasah keris. Ini berarti keris belum jadi, atau memasuki tahap perlakuan akhir (finishing touch). Jika keris belum tuntas kemungkinannya sangat kecil untuk memberikan kekuatan supranatural kepada keris.
Catatan: Pembaca dapat mempelajari lebih jauh deskripsi proses pembuatan keris pada masa modern dalam referensi [5]. Dalam buku itu disebutkan bahan-bahan membuat keris, yaitu besi (12-18 kg), baja (600 gr) dan bahan pamor, misal: nikel (125 gram).
Keampuhan keris Empu Gandring yang dikenal bersifat esoterik (bertuah) diperoleh dengan cara mengoleskan bisa ular ke permukaan keris. Ketika keris telah selesai digerinda Empu Gandring mengoleskan bisa ular ke permukaan keris. Ada proses difusi racun ke dalam keris karena mungkin keris yang terbuat dari batu meteor itu tidak halus tapi berongga. Sebagian bisa ular tersimpan dalam rongga itu. Setelah itu, keris dimasukkan ke dalam sarungnya dan disimpan. Ketika keris itu digunakan, bisa ular boleh jadi masuk ke dalam darah, dan bagian tubuh yang terkena tusukan akan lumpuh. Hal ini juga dapat menyebabkan kematian.
Batu Meteor yang jatuh di Madiun, Jawa Timur
Pernyataan bahwa bisa ular diberikan ketika keris sedang membara agaknya mengundang banyak pertanyaan, karena boleh jadi bahwa bisa tersebut langsung menguap begitu saja. Seperti yang ditulis oleh saya sendiri pada 7 Desember 2006 di halamansatu.net dengan judul Mpu Gandring: Profesor Metalurgi? sebagai berikut:
Beberapa tahun lalu saya mendengar cerita mengenai “profesor” jaman Kerajaan Singosari [catatan: cerita ini diperoleh penulis menjadi mahasiswa di Aeronotika & Astronotika dan menghadiri kuliah Metode Manufaktur yang diberikan oleh Profesor Rochim Suratman, Institut Teknologi Bandung]. Namanya Mpu Gandring. Dia dikenal sebagai pembuat keris dalam epik Ken Arok dan Ken Dedes. Jaman itu, teknologi pengolahan logam atau metalurgi masih sangat tradisional: besi dipanaskan dan ditempa; atau dalam istilah metalurgi, diberi perlakuan panas (heat treatment) dan dibentuk (forging). Kemudian, ilmu metafisik masuk, dan besi yang telah terbentuk (misal: pedang, keris dll), diberi doa-doa, dan menjadi sakti. Mpu Gandring diperkirakan tidak hanya melakukan proses metalurgi saja, tapi juga proses kimia. Bagaimana Mpu Gandring membuat kerisnya jadi ampuh?
Mpu Gandring sangat pemilih dalam hal bahan: dia menginginkan bahan yang cukup kuat tapi ringan. Jaman itu, proses pemaduan logam dengan logam lain belum dikenal, jadi bahan monolitik adalah pilihan. Mpu Gandring memilih batu meteor sebagai bahan kerisnya. Hal ini juga perlu diteliti lebih jauh apakah batu meteornya bisa diberi perlakuan panas dan dibentuk. Batu meteor ini bisa dilihat dan disentuh di Museum Geologi – Bandung. Tapi, apakah bahan itu yang digunakan Mpu Gandring atau bukan, ini masih pertanyaan.
Setelah, keris terbentuk, Mpu Gandring mencelupkan keris (yang masih panas) tersebut ke dalam bisa ular. Ada proses difusi dari racun ular ke dalam keris yang masih membara itu. Bisa ular sebagian menempel hanya di permukaan, dan sebagian lain berdifusi ke dalam keris. Setelah mendingin, keris dimasukkan ke dalam sarungnya, dan disimpan. Bisa dibayangkan jika keris itu disentuh atau ditancapkan ke tubuh: bisa ular segera menempel dan masuk ke dalam darah, lalu bagian tubuh akan lumpuh dan manusia bisa mati. Pada jaman itu, hanya sedikit orang yang mengetahui proses pembuatan keris secara “ilmiah”; salah satunya adalah Mpu Gandring. Karena pengetahuan dan pengalaman yang cukupadvanced dalam pembuatan keris, mungkin Mpu Gandring juga dikenal sebagai mahaguru pada jaman itu. Apakah dia bisa disebut profesor di jaman ini?
Penelitian lebih jauh sangat diperlukan untuk memperoleh informasi mengenai peta kemajuan teknologi Jawa pada abad lampau.
Kemudian versi revisinya muncul pada 2008 dengan judul Keris Mpu Gandring: Hipotesis.
GANDRING dikenal sebagai pengrajin logam yang tersohor di kerajaan Tumapel (cikal bakal Singosari). Ia juga dikenal sakti. Karena “profesional” dan sakti itu ia kemudian diberi gelar “Mpu”. Ken Arok, seseorang yang dipercaya sebagai titisan Wisnu, memesan keris kepadanya. “Satu hari”, begitu Ken Arok memberikan tenggat waktu bagi Gandring. Satu hari berlalu dan Gandring telah menyelesaikan kerisnya. Namun sarung keris belum tuntas. Karena tak sabar, Ken Arok mengambilnya, lalu membunuh Gandring. Gandring sempat menyumpahi Ken Arok dan keturunannya: tujuh turunan bakal mati tertikam keris itu.
Jaman itu, teknologi pengolahan logam atau metalurgi masih sangat tradisional: besi dipanaskan dan ditempa; atau dalam istilah metalurgi, diberi perlakuan panas (heat treatment) dan dibentuk (forging). Kemudian, ilmu metafisika masuk, dan besi yang telah terbentuk (misal: pedang, keris dll), diberi doa-doa, dan menjadi sakti. Begitukah? Entahlah.
Bagaimana Mpu Gandring membuat kerisnya jadi ampuh? Mpu Gandring memilih bahan yang kuat tapi ringan. Jaman itu, proses pemaduan logam dengan logam lain barangkali tak menghasilkan paduan yang memuaskan. Jadi, bahan monolitik adalah pilihan. Mpu Gandring memilih batu meteor sebagai bahan kerisnya. Hal ini juga perlu diteliti lebih jauh apakah batu meteornya bisa diberi perlakuan panas dan dibentuk. Batu meteor ini bisa dilihat dan disentuh di Museum Geologi – Bandung. Tapi, apakah bahan itu yang digunakan Mpu Gandring atau bukan, ini masih pertanyaan.
Setelah, keris terbentuk, Mpu Gandring mencelupkan keris (yang masih panas) tersebut ke dalam bisa ular. Ada proses difusi dari racun ular ke dalam keris yang masih membara itu. Bisa ular sebagian menempel hanya di permukaan, dan sebagian lain berdifusi ke dalam keris. Setelah mendingin, keris dimasukkan ke dalam sarungnya, dan disimpan. Bisa dibayangkan jika keris itu disentuh atau ditancapkan ke tubuh: bisa ular segera menempel dan masuk ke dalam darah, lalu bagian tubuh akan lumpuh dan manusia bisa mati. Pada jaman itu, hanya sedikit orang yang mengetahui proses pembuatan keris secara “ilmiah”; salah satunya adalah Mpu Gandring. Karena pengetahuan dan pengalaman yang cukup advanced dalam pembuatan keris, mungkin Mpu Gandring juga dikenal sebagai mahaguru pada jaman itu. Apakah dia bisa disebut profesor di jaman ini?
Dua artikel yang bersifat spekulatif di atas dikutip oleh blogger (kebanyakan tidak mencantumkan sumber aslinya). Daftar pengutip dapat dilihat di bagian bawah.
Namun demikian, proses pencucian keris nampaknya memang ada, dan ini disebut warangan. Seperti yang ditulis oleh ki_cancut:
Warangan adalah proses pemberian racun pada keris yg melalui proses pembakaran dan biasanya berlangsung di bulan SURA. Pemberian racun pada keris semata-mata hanya bertujuan untuk menambah kemampuan fisik semata. Fisik dari keris jika terlalu sering diwarangi akan rapuh dan berbahaya. Racun yang biasanya digunakan untuk keris adalah berasal dari meteor, bangkai ular tanah, bangkai ular kobra, dan bangkai katak (kodok kerok).
Untuk pemberian racun adalah melalui proses sbb :
Keris dipisahkan dari gagang dan warangka. keris dipanaskan pada tungku api. Kemudian keris dimasukan kedalam bubuk racun pada kondisi panas dan dilakukan beberapa kali untuk menambah racun atau memperkuat racun tersebut. Pada saat keris berada dalam kondisi panas, maka jika dimasukkan pada bubuk racun, maka akan menyerap racun tsb hingga menyatu pada batang keris.
Konon warangan dilakukan pada senjata para pendekar dan para prajurit dalam menghadapi musuh agar pada saat bertempur, dg luka yg sedikit mampu menimbulkan efek yang mematikan. Pada saat terjadi perang perjuangan melawan Belanda, hal ini di rasa mampu mengimbangi kekuatan musuh yang pada saat itu berupa senjata api.
Warangan yg dilakukan pada keris jika terlalu banyak racun yg diberikan, maka akan menjadikan keris tersebut rapuh dan keropos. Bahkan jika kadar racun telah melewati batas kewajaran akan mengakibatkan udara sekitar tercemari oleh racun pada keris pada saat keris berada diluar kerangkannya.
Dampak yang bisa terjadi adalah keracunan ringan berupa pusing atau muntah2. Sehingga jika melakukan warangan, maka sang empu harus mengetahui berapa besar kadar racun yang sudah berada dalam keris dan selanjutnya menentukan akan diberikan lagi racun atau tidak.
Biasanya keris setelah dilakukan warangan, maka warna permukaan keris akan menjadi bersih dan berwarna metalik gelap ( logam putih ) dan pada permukaannya akan terlihat rongga2 yang sangat kecil.
Jadi hati2 kalau habis membuka keris terus dicium dapat berbahaya kena racunnya bukan karena jin atau penunggu tapi racun tersebut yang berbahaya juga.
8. Di manakah keris Empu Gandring berada?
Keberadaan keris Empu Gandring masih menjadi misteri hingga kini. Mitos mengenai keberadaannya menciptakan kisah yang menarik (enthralling stories), seperti yang ditulis dalam [7]. Ada beberapa versi cerita mengenai keberadaannya:
  • Untuk menghindari konflik berdarah, Keris Empu Gandring diasumsikan dibuang ke Laut Jawa dan berubah menjadi naga
  • Keris Empu Gandring secara misterius menghilang, atau jatuh ke tangan orang penting dalam pemerintahan
  • Keris Empu Gandring ditanam di dalam Candi Anusapati alias Candi Jago, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur [Ref]
9. Pertanyaan yang belum terjawab
(1) Siapa saja ahli keris di Jawa di masa lampau?
(2) Di mana letak reputasi Empu Gandring di antara ahli keris?
(3) Bagaimana dan dari siapa Empu Gandring belajar membuat keris yang ketika itu dianggap modern?
(4) Dalam proses pembuatan keris apa saja bahan dan alat-alat yang dipakai oleh Empu Gandring?
(5) Apakah benar keris Empu Gandring memiliki kesaktian?
***
Bibliografi
[1] Arswendo Atmowiloto (2004). Senopati Pamungkas #2, PT Gramedia Pustaka Utama
[2] ________ (1481) Kitab Pararaton (terjemahan bahasa Indonesia di http://ki-demang.com/)
[3] Langit Kresna Hariadi, Gajah Mada Jilid 5
[4] JF Scheltema (1996). Monumental Java, Asian Educational Service
[5] Bambang Harsrinuksmo (2004). Ensiklopedi Keris, PT Gramedia Pustaka Utama.
[6] A.G. Maisey (?) The Origin of the Keris and its Development to the 14th Century. Link.
[7] Novita Dewi (2005). Power, Leadership and Morality: A Reading of Ken Arok’s Images in Indonesian Literature and Popular Culture, Ph.D. Thesis, National University of Singapore.
Pernah dimuat di halamansatu
Sumber ( http://ari3f.wordpress.com/2008/02/22/mpu-gandring/ )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar